Selasa, 12 November 2013

Dua Rumah Anas Urbaningrum Di Geledah KPK

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menggeledah dua rumah Anas Urbaningrum di Jalan Teluk Semangka, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (12/11/2013). Selama penggeledahan tersebut, Anas tak pernah terlihat, bahkan dalam konferensi pers terkait penggeledahan itu.

"Mas Anas itu ada di rumah. Kenapa Mas Anas kok tidak muncul-muncul, PPI kan coba menghilangkan kultus-kultus," kata fungsionaris PPI, Ma'mun Murod Al-Barbasy, dalam jumpa pers di kediaman Anas, Selasa (12/11/2013) malam. Banyak kader PPI, ujar dia, yang dianggap cukup baik untuk berbicara tentang penggeledahan tersebut.

Ma'mun menyatakan, PPI tidak perlu bergantung pada satu orang untuk menjelaskan seputar penggeledahan yang dilakukan KPK. "Itu terlalu jauh kalau Mas Anas harus ikut (menjelaskan)," ujar Ma'mun.

Sejak PPI dideklarasikan pada 15 September 2013, kata Ma'mun, Anas sudah tidak tinggal di rumah yang kini diserahkan untuk menjadi "rumah pergerakan" atau markas PPI tersebut. "Sejak tanggal itu, rumah ini sudah dijadikan markas PPI," ujar Ma'mun.

Penggeledahan KPK berakhir pada pukul 16.30 WIB. Namun, para penyidik baru beranjak meninggalkan rumah Anas sekitar pukul 20.30 WIB. Ma'mun membantah ada pengusiran terhadap penyidik KPK, dengan memasukkan para wartawan ke dalam rumah untuk konferensi pers.

Saat wartawan memasuki kompleks rumah, para penyidik memang masih terlihat di sana. Mereka kemudian begegas mengepak barang-barang. Ma'mun mengatakan, jika memang PPI berniat mengusir penyidik KPK, tentu sejak awal hal tersebut dilakukan.

Dalam pantauan Kompas.com, hanya istri Anas, Athiyah Laila, yang terlihat beberapa kali keluar masuk dua rumah yang bersebelahan tersebut selama penggeledahan. Memasuki malam, terlihat Gede Pasek Suardika, politisi Partai Demokrat yang dicopot dari jabatan Ketua Komisi III DPR karena menjadi Sekjen PPI, datang ke markas PPI ini sebelum konferensi pers.

Penggeledahan di rumah Anas tidak berkaitan dengan Anas, tetapi dengan Athiyah Laila, istri Anas. Dia pernah menjadi pemimpin di PT Dutasari Citralaras bersama tersangka kasus Hambalang, Mahcfud Suroso.

KPK yakin, ada jejak Machfud di rumah Anas atau istrinya. PT Dutasari Citralaras disebut sebagai salah satu perusahaan yang menjadi subkontraktor PT Adhi Karya dalam proyek Hambalang senilai Rp 1,52 triliun.

Perusahaan tersebut dipimpin oleh Mahfud Suroso, yang kerap disebut sebagai orang dekat Anas. Dia diduga mendapatkan keuntungan dari penyalahgunaan wewenang yang dilakukan penyelenggara negara dalam pengadaan sarana dan prasarana olahraga di Hambalang. Dia telah ditetapkan menjadi tersangka dalam pengadaan sarana dan prasarana olahraga itu.

Dalam kasus ini, KPK juga sudah menetapkan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Andi Mallarangeng, serta Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian Pemuda dan Olahraga Deddy Kusdinar sebagai tersangka. Kasus Deddy juga sudah masuk ke persidangan perdana pada pekan ini.

Selasa, 01 Oktober 2013

Penyebab Perubahan Besar Cuaca

Peneliti Eropa menemukan bukti bahwa letusan gunung api Samalas di Pulau Lombok menjadi penyebab perubahan besar cuaca pada 1257. Perubahan pada tahun itu ditandai dengan perubahan kimia di permukaan es kedua kutub Arktik dan Antartika.

Dilansir BBC, Selasa 1 Oktober 2013, teks abad pertengahan Eropa mencatat bahwa pada 1.257 iklim di bumi tiba-tiba mendingin dan terjadi gagal panen setelah Gunung Samalas atau yang kini dikenal sebagai Gunung Rinjani meletus.

Peneliti semakin yakin setelah mencocokkan belerang, debu jejak es di kedua kutub dengan data yang dikumpulkan dari wilayah Lombok. Peneliti juga membandingkan dating radiokarbon, jenis dan penyebaran batuan dan abu yang dikeluarkan gunung api serta mengkolaborasikan dengan sejarah lokal Lombok pada abad ke 13.

Dan hasilnya, makin menguatkan dugaan peneliti. "Bukti itu sangat kuat dan menarik," tegas Prof Clive Oppenheimer dari Universitas Cambridge.

Seperti investigasi kriminal

Sementara kolega Oppenheimer, Prof Franck Lavigne dari Universitas Pantheon Sarbonne, Prancis mengaku puas dengan hasil riset meski harus bekerja keras melacak temuan itu, ia mengaku tim seperti melakukan investigasi kriminal.

"Kami tak tahu pelaku pada awalnya, tapi kami punya waktu terjadinya pembunuhan dan ada jejak dalam bentuk geokimia pada inti permukaan es. Itu memungkinkan bagi kami guna melacak gunung berapi yang bertanggung jawab atas peristiwa abad 13," jelasnya.

Sebelumnya, peneliti memperkirakan gunung api yang jadi sumber peristiwa cuaca pada 1257 itu dikaitkan dengan gunung api Meksiko, Ekuador dan selandia Baru. Tapi belakangan, pengukuran dan pelacakan geokimia serta penanggalan (dating) tidak cocok.

Muntahkan 40 Km Kubik Batuan

Studi tim di Lombok menunjukkan sebanyak 40 km kubik batuan dan abu kemungkinan termuntahkan dari Gunung Berapi Samalas. Sementara debu vulkanik kemungkinan mengangkasa lebih dari 40 km.

Letusan besar itu berdampak signifikan pada perubahan iklim saat itu. Teks abad pertengahan menggambarkan, pada abad itu, setahun setelahnya terjadi musim panas yang mengerikan di Eropa. Iklim jadi dingin, hujan terus menerus dan mengakibatkan banjir.

Bukti itu juga dikuatkan dengan temuan arkeolog kerangka ribuan orang yang dikuburkan secara massal di London. Penanggalan kerangka menunjukkan penguburan itu terjadi pada 1258.

"Kami tidak bisa mengatakan dengan pasti kaitan dua peristiwa itu. Tapi jumlah kerangka itu jelas menekankan," ujar Prof Lavigne.

Peneliti meyakini, letusan Samalas setidaknya sebesar letusan dahsyat terbaru yaitu Krakatau pada 1883, yang mengakibatkan awan panas dan tsunami besar serta Tambora pada 1815, yang mengakibatkan 'tahun tanpa musim panas', setahun setelah ledakan, akibat debu Tambora. Mengutip laman Nationalgerographic, letusan 1257 bahkan delapan kali mebih kuat dari letusan Krakatau.